Cari tau informasi lebih lengkap mengenai paket umroh tahun 2019 di Indonesia yuk

Senin, 12 November 2018

Umroh Di Bulan Romadon 2019

UMROH BACKPACKER (MANDIRI) DI BULAN RAMADHAN

Berawal dari nazar saya dan pak suami. Kalau hajat terkabul kami mau berangkat umroh. Namun ada cita-cita lagi yang terpendam, kami ingin berangkat umroh sendiri tanpa ikut rombongan excursion. Kalau bisa setelah umroh, mau sekalian journey ke Mesir, Jordan dan Jerussalem. Boleh dong yaa punya cita-cita tinggi 😀

Tapi, semua orang juga tahu, perjalanan umroh mandiri tidaklah semudah itu. Terutama masalah visa. Karena tanpa visa, sudah pasti umroh tidak akan pernah terjadi. Selama ini saya mencari information tentang umroh backpacker. Namun yang saya temukan tetap umroh yang dilakukan berkelompok dengana tour leader. Biasanya umroh ber-group ini menggunakan land arrangement. Hampir mirip dengan yang ditawarkan jasa journey agent, namun yang ini tanpa tiket pesawat. Kami pun tetap mencari yang benar-benar bisa pergi sendiri, sampai akhirnya….

Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya kami menemukan tour agent yang mau mengurusi visa kami, sekalian dengan tiket pesawat. Tanpa ba bi bu dan menunggu terlalu lama, hanya dalam waktu 6 hari saya mempersiapkan segalanya. Iya, segalanya. Dari bikin itinerary, reservasi inn dan mobil, beli pakaian ihrom, belajar tata cara umroh, dan yang terpenting mempersiapkan Zola, anak saya. Kami pergi berempat : saya, pak suami, Zola dan ayah saya.

Bikin itinerary 

Itinerary is a need to ! Kami tidak pernah travelling tanpa itinerary, apalagi medannya Arab Saudi. Kami tipe family traveler yang santai, tidak terlalu berambisi untuk mengejar banyak tempat. Lagipula niatnya kan ibadah. 15 hari (6 hari di akhir Ramadhan dan 9 hari di awal Syawal) waktu yang kami perhitungkan untuk umroh sekaligus jalan-jalan setelahnya. Awalnya, kami ingin melanjutkan perjalanan, entah itu ke Mesir, Jordan atau Israel seperti cita-cita kami. Namun, atas dasar itung-itungan finances yang dimiliki saat itu, kami memilih berkeliling Arab Saudi saja. Ternyata, kami menemukan hidden gem di Arab Saudi, selain Mekkah dan Madinah pastinya ! One of our pleasant journeys ever ! Simak yaa apa kota-kota apa saja yang kami kunjungi.

Mekkah
Kota ini adalah destinasi utama umroh journey kami. Ya iyalaaah ! :). Berdasarkan itinerary yang sudah dibuat, ada beberapa spot yang ingin kami kunjungi, seperti Mina, Gua Hira, dan Jabal Thawr. Apa daya, karena matahari di Saudi saat itu sedang gagah-gagahnya (temperatur udara bisa mencapai hampir 50 derajat celcius), maka kami hanya fokus ke Masjidil Haram saja. Tak sampai hati saya mengajak Zola terlalu lama berpanas-panasan di luar, apalagi saat itu bulan puasa.

Di bulan ini, jamaah membludak, apalagi ketika waktu solat tiba, misalnya saat solat tarawih, saf jamaah bisa mencapai 1 kilometer panjangnya dari Masjidil Haram. Jika waktu solat kami berusaha datang lebih awal. Untuk saya dan Zola, kami hanya keluar motel untuk solat Subuh, Maghrib, dan Isya. Sisanya, kami memilih ngadem. Hotel kami tidak jauh dari Masjidil Haram. Jaraknya sekitar 800 meter dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Jamaah penuh di plataran Masjidil Haram

Jamaah hingga 1 km dari Masjidil Haram

Di Masjidil Haram, tawaf dan sa’i yang nyaman untuk anak-anak bisa dilakukan di lantai three. Di sana kami memanfaatkan fasilitas electric powered wheel chair. Sudah pasti, Zola langsung sumringah naik ini, apalagi boleh nyetir sendiri. Ada fasilitas ini juga baru tau setelah pak suami eksplorasi Masjidil Haram. Sebelumnya, kami tawaf di lantai 1 sejajar dengan Ka’bah, namun agak jauh karena penuh orang saat itu. Ketika kami tawaf di sini, Zola sempat tergencet dan terdorong-dorong orang dewasa. Kasihan ! Untungnya dia gak kapok dan malah glad diajak tawaf dan sa’i naik electric powered wheel chair.

Electric Wheel Chair di lantai 3 Masjidil Haram

Horeeee nyetir sendiri !

Di Mekkah, kami mengandalkan taksi criminal (banyak sekali taksi ilegal dan jangan pernah menggunakannya) dan uber sebagai moda transportasi. Terutama saat pergi ke Tan’im sebagai miqat terdekat di Mekkah. Karena kami melakukan umroh lebih dari satu kali, maka kami harus keluar dulu dari Mekkah, dan mulai lagi dari Tan’im. Berangkatlah kami dengan taksi legal berwarna putih dengan sign ‘taxi’ di atasnya, namun tanpa argo. Tidak ada taksi berargo di Saudi. Semuanya mengandalkan kemahiran tawar-menawar.

Madinah
Kota suci kedua yang kami datangi tentu saja Madinah. Dengan mengendari bus Saptco, shipping publik milik pemerintah KSA, perjalanan ditempuh sekitar five jam. Bus Saptco ini bisa dipesan via on-line dan memang sebaiknya dipesan via on line supaya tidak terjebak antrian semrawut di depan loket karcis. Terminal bus saptco tidak jauh dari Masjidil Haram.

Hari terakhir bulan Ramadhan kami berangkat menuju Madinah. Ruang tunggu ber-AC di terminal seolah tidak mampu menentang udara yang sangat terik di luar ruangan. Tidak ada ekspektasi apapun pada bus ini. Kami pasrah saja. Eh ternyata, bus yang kami tumpangi cukup nyaman. Kursi yang bisa direbahkan, fasilitas snack, kopi, teh dan air mineral untuk berbuka puasa, TV yang menyiarkan stay dari Masjidil Haram, dan driver orang Indonesia :).  Sepanjang perjalanan, Zola tertidur. Sementara saya asyik ngobrol dengan teman baru, suster asal Filipina yang sudah lama bekerja di Mekkah.


Di dalam bus Saptco dari Mekkah ke Madinah 

Tiba di Madinah pada malam hari, kami langsung bergegas ke resort. Jarak dari tempat pemberhentian bus ke resort dan dari motel ke Masjid Nabawi tidak begitu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Malam itu tidak ada takbir yang bersahut-sahutan, tidak seperti di tanah air yang pasti sudah ramai rombongan takbir dan petasan keliling kampung. Di Madinah tidak ada tanda-tanda perayaan apapun selain orang yang lalu lalang dan lalu lintas padat.

Keesokan harinya, kami keluar inn agak terlambat. Jemaah yang ingin sholat ied sudah luber sampai ke jalan dekat lodge kami menginap. Tak ada pilihan lain, akhirnya kami bergabung sholat di jalan bersama jamaah lain. Takbir tidak begitu terdengar dari jalan, pengeras suara di sini pun tidak seheboh di tanah air. Setelah sholat ied, jamaah saling bersalaman dengan kerabatnya.


Setelah sholat Ied di jalan (sumber foto : Sheika Rauf/familygoers)

Kebetulan resort tempat kami menginap menyediakan kue besar untuk siapapun, baik tamu resort atau orang yang kebetulan lewat boleh ikut menikmati. Kami hanya menjadi penonton dari kejauhan, tidak berselera untuk bergerumun mengambil kue.

Tidak seperti di Mekkah, di Madinah kami memanfaatkan waktu dengan eksplorasi kota selain ke masjid Nabawi. Di sini ada fasilitas bus hop on hop off untuk berkeliling kota. Halte bus ini terletak tidak begitu jauh dari resort tempat kami menginap. Bus ini ber-AC dan sudah dilengkapi dengan audio manual berbahasa Inggris, Prancis, juga Indonesia. Harganya memang agak mahal dibandingkan jika kita berkeliling kota Madinah dengan taksi. Namun ini jadi pengalaman untuk kami, apalagi Zola yang menikmati pemandangan kota dari atas bus.


Menikmati pemandangan dari lantai atas bus

Kami berhenti di beberapa tempat, di antaranya : bukit uhud, kebun kurma, museum kereta api hejaz, masjid Quba dan mall. 🙂


Jabal Uhud


Nunggu bus lagi dari Jabal Uhud


Kebun Kurma


Museum Kereta Hejaaz


Al Ula
Kota ini adalah salah satu kota peradaban tertua di dunia. Sebetulnya tujuan kami adalah Madain Saleh. Namun karena tidak ada penginapan di Madain Saleh, maka kami menginap di kota Al Ula, kota terdekat dari Madain Saleh. Untuk menuju ke kota ini sudah petualangan tersendiri untuk kami. Mobil sedan Lexus yang membawa kami caught tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi karena medannya terlalu berat. Kami tidak menyangka bahwa resort tempat kami menginap terletak di pelosok gurun pasir, sulit diakses dari jalan utama, kecuali naik Jeep. Sementara kami menyewa mobil sedan.

Hampir saja kami batal menginap di sini dan kembali ke Madinah jika saya tidak memaksa jalan kaki melanjutkan perjalanan sampai ke lodge. Untung saja hotelnya sudah kelihatan dari tempat mobil kami mogok. Pak suami, saya dan driver yang kebetulan orang indonesia berjalan kaki memastikan apakah benar itu hotel yang kami tuju. Sementara ayah saya dan Zola menunggu di mobil sampai kami kembali.

Hotel tempat kami menginap ini berbentuk camp. Sekilas camp ini seperti tidak berpenghuni, apalagi letaknya benar-benar di pelosok gurun pasir. Kami tidak menyangka ada tempat seperti ini di gurun. Namun ternyata, justru tempat ini sangat ramah anak. Ada fasilitas zoo dan tempat fundamental yang luas sekali. Kata Zola, “that is the first-class stay ever, Bunda !”

Madain Saleh
Kata orang, inilah jejak-jejak kaum Tsamud, kaum yang mengingkari nabi Allah SWT. Kini, peninggalan ini menjadi situs bersejarah, salah satu peradaban tertua di dunia yang dilindungi Unesco. Tempat ini adalah peninggalan kerajaan Nabatean yang hidup sekitar 2000 tahun sebelum mahesi. Tempat ini dulunya digunakan sebagai makam para orang kaya. Mereka membangun gua di gunung batu untuk menyimpan jenazah mereka.

Cerita tentang Madain Saleh diceritakan panjang lebar oleh seorang nearby excursion manual, asli Arab dan lama bermukim di Al Ula. Zola yang menyukai cerita sejarah begini terkesima mendengarkan penjelasan seru dari Bandar, sang excursion manual. Kalau wisata sejarah macam begini, Zola sangat antusias. Curious to the max !

Jeddah
Inilah kota terakhir yang kami singgahi. Dari sinilah kami akan pulang kembali ke tanah air. Namun sebelum pulang, tentu saja kami tidak melewatkan eksplorasi kota Jeddah. Jeddah biasanya hanya jadi kunjungan singkat saja untuk para rombongan jamaah umroh bersama journey agent. Namun justru di umroh mandiri ini saya sengaja stay di Jeddah beberapa hari untuk bisa eksplorasi kota ini, pastinya dengan tidak melewatkan makan ayam Al baik dan bakso mang Udin yang legendaris itu :).

Di sini, kami direkomendasi teman suami yang lama tinggal di Jeddah untuk mengunjungi Al Balad, kota tua Jeddah, kota yang pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan menjadi pelabuhan utama untuk masuk ke Mekkah. Di kota ini juga terdapat masjid Imam Syafi’i. Masjid tua ini baru saja dipugar dan dibuka kembali untuk umum. Lagi-lagi, Zola suka berada di tempat seperti ini. Begitu pula dengan saya. Serasa masuk ke lorong waktu 😀


Masjid Imam Syafi’I Jeddah
Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin saya ceritakan, namun akan lebih seru lagi kalau cerita ini dibuat bersambung saja yah, supaya tidak terlalu panjang. Nantikan cerita lanjutan tentang lika liku drama umroh mandiri, tentang finances yang dikeluarkan, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan masih banyak lagi yang ingin ditulis. Feel free untuk menagih di kolom komentar kalau merasa artikel lanjutannya dirilis kelamaan 🙂

Oh ya, perjalanan kami ini dibantu oleh tour agent yang baik hati membantu pengurusan visa dan tiket pesawat kami sekeluarga.

Umroh mandiri sulit ? Kami saja bisa, kenapa yang lain tidak ? Selamat mencoba ! 😉